jurnal keperawatan

 

GAMBARAN MEKANISME KOPING PADA PASIEN THERAPY HEMODIALISA DI RUANG HEMODILAISA RUMAH SAKIT TGK CHIK DITIRO SIGLI 2016

OVERVIEW coping mechanism HEMODIALISA THERAPY IN PATIENTS IN THE HOSPITAL HEMODIALISA was Tgk Chik Ditiro Sigli YEAR 2016

Muhammad[1], Nurlela Mufida[2]

1Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Medikal Nurul Islam, Sigli

2Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Medikal nurul Islam, Sigli

1Student of nursing Sciene Medikal Nurul Islam, Sigli

2Supervisor Nursing Science Program Medikal Nurul Islam, Sigli

Email: nsmuhammad9@gmail.com

 

ABSTRAK

Mekanisme koping merupakan cara yang dilakukan oleh individu dalam menyelesaiakan masalah, menyesuaikan diri terhadap perubahan, respon terhadap situasi yang mengancam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mekanisme koping pada pasien therapy hemodialisa rsu tgk chik ditiro sigli 2016. di tinjau dari mekanisme koping denial, kompensasi, displacemen, reaction formation, introyeksi, rasionalisasi. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan metode purposive sampling. Sampel 53 pasien therapy hemodilaisa. Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data di dapatkan bahwa gambaran mekanisme koping pada pasien hemodialisa di ruang hemodialisa rumah sakit tgk chik ditiro sigli tahun 2016 yaitu menggunakan mekanisme koping Denial   yaitu sebanyak 42 responden (79%). Kompensasi yaitu sebanyak 38 responden (72%). Displacement yaitu sebanyak 30 responden (57%). Reaction formation yaitu sebanyak 36 responden (68%). Introyeksi yaitu sebanyak 26 responden (49%). Rasionalisasi yaitu sebanyak 32 responden (60%). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gambaran mekanisme koping pada pasien therapy hemodialisa di ruang hemodialisa rumah sakit tgk chik ditiro sigli tahun 2016 berada pada kategori Adaptif yaitu sebanyak 39 responden (74%). Diharapkan kepada pasien therapy hemodialisa dapat mempertahankan mekansisme koping adaptif tersesbut.

Kata Kunci : Denial , compensation , displacemen , reaction formation , introjection , rationalization .

 

ABSTRACT

Coping mechanism is a way in which the individual in resolving the problem, adjust to changes, in response to threatening situations. This study aims to describe the coping mechanisms in patients with hemodialysis therapy rsu TGK chik Ditiro Sigli 2016.di review the denial of a coping mechanism, compensation, displacemen, reaction formation, introjection, rationalization. The study design used in this research is descriptive, with purposive sampling method. Samples of 53 patients hemodilaisa therapy. Based on the results of research and data processing in get that picture of the coping mechanisms in patients with hemodialysis therapy rsu TGK chik Ditiro 2016 Sigli use the coping mechanisms of denial that as many as 42 respondents (79%). Compensation as many as 38 respondents (72%). Displacement as many as 30 respondents (57%). Reaction formation as many as 36 respondents (68%). Introjection as many as 26 respondents (49%). Rationalization as many as 32 respondents (60%). From this study it can be concluded that the description of the coping mechanisms in patients with hemodialysis therapy in a hospital hemodialysis room TGK chik Ditiro Sigli 2016 in the category of Adaptive as many as 39 respondents (74%). Expected to hemodialysis therapy patients can maintain stringent mekansisme adaptive coping.

 

Keywords: Denial, Kompensasi, Displacemen, Reaction Formation, Introyeksi, Rasionalisasi.

 


PENDAHULUAN

Mekanisme koping merupakan cara yang dilakukan oleh individu dalam menyelesaiakan masalah, menyesuaikan diri terhadap perubahan, respon terhadap situasi yang mengancam. Upaya individu ini dapat berupa kognitif , perubahan perilaku dan perubahan lingkungan yang bertujuan untuk menyelesaikan stress yang dihadapi. Kemampuan koping diperlukan manusia untuk mampu bertahan hidup di lingkungannya yang selalu berubah dengan cepat. Koping merupakan pemecahan masalah dimana seseorang menggunakannya untuk mengelola kondisi stress. Dengan adanya penyebab stress/stressor maka orang akan sadar dan tidak sadar untuk bereaksi untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam keperawatan konsep koping sangat perlu karena semua pasien mengalami stress, sehingga sangat perlu kemampuan untuk mengatasinya dan kemampuan koping untuk adaptasi terhadap stress yang merupakan faktor penentu yang terpenting dalam kesejahteraan manusia ( Keliat, 2007)

Ginjal berfungsi sebagai tempat mengatur air, dapat mengatur konsetrasi garam dalam darah, dapat mengatur keseimbangan asam-basa darah, dan dapat mengekskresikan dan kelebihan garam (Fransisca & Nursalam, 2009). Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan kerusakan ginjal progresif yang mengakibatkan fatal dan ditandai dengan uremi (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal) (Fransisca & Nursalam, 2009).

Menurut data Yayasan Peduli Ginjal (Yadugi), saat ini di indonesia terdapat 40.000 penderita gagal ginjal kronik (GGK). Namun dari jumlah tersebut, hanya sekitar 3.000 penderita yang bisa menikmati pelayanan cuci darah atau hemodialisa. Sisanya, hanya bisa pasrah menjalani hidupnya, karena pada dasarnya penderita dengan hemodialisa tidak bisa sembuh, tetapi bagi gagal ginjal kronis dengan hemodialisa dapat mencegah kematian. Namun demikian, hemodialisa tidak menyembuhkan atau memulihkan penyakit ginjal dan tidak mampu mengimbangi hilangnya aktifitas metabolic atau endokrin yang dilaksanakan oleh ginjal dan dampak dari ginjal serta terapi terhadap kualitas hidup pasien. Dialisis dapat digunakan untuk mempertahankan penderita dalam keadaan klinis yang optimal sampai tersedia donor ginjal (Price, Sylvia Anderson, 2005).  

Pada pasien gagal ginjal dilakukan hemodialisa 2 kali seminggu dengan setiap hemodialisis membutuhkan waktu selama 5 jam. Di senter dialisis lain ada juga dialisis yang dilakukan 3 kali seminggu dengan lama dialisis 4 jam (Aru W.Sudoyo, 2009). Seseorang akan menderita gangguan cemas manakala yang bersangkutan tidak mampu mengatasi stressor psikososial yang dihadapinya. Tetapi pada orang-orang tertentu meskipun tidak ada stresor psikososial, yang bersangkutan menunjukkan kecemasan juga, yang ditandai dengan corak atau tipe kepribadian pencemas (Dadang Hawari, 2004).

Mekanisme koping merupakan tiap upaya yang di tujukan untuk penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan ego yang di gunakan untuk melindungi diri (Gail. W. Stuart, 2006). Sigli pasien gagal ginjal yang harus menjalani hemodialisa (cuci darah) di Rumah Sakit Umum sigli (RSU) terus meningkat. Dari enam orang kini rata-rata mencapai 60 oarang paien yang rutin cuci darah dua minggu sekali. (Harian Serambi Indonesia, 2013).

Di RSU (Rumah Sakit Umu Sigli) Tgk. Chik Ditiro Sigli mempunyai fasilitas therapi hemodialisa dengan luas ruang 12x 6 meter terdapat mesin hemodialisa dengan jumlah 13 buah mesin dengan jumlah bed tindakan 8 buah, kursi tindakan 4 buah dan kursi biasa 5 buah, tabung oksigen 1 buah, basinwas 1, troli 1, meja pasien 5 buah. Ruang di lengkapi ac 4 buah tv lcd 2, dan dihiasi kaligrafi, jam dinding, dan tongsampah ruangan. Di ruang ners stasion terdapat lemari status pasien, timbangan dan cairan nacl serta kursi roda 2 buah, racun api 1, autoclaf 1 buah, suction 1  buah dan troli. Karyawan ruang hemodialisa berjumlah 13 orang terdiri dari tiga sift jaga, pagi, siang dan malam. Satuan kerja petugas terdiri dari kepala ruangan (Ners) wakil d4 Keperawatan, teknisi (atro), clening servis dan sebagian lainnya perawat (d3).

RSU Tgk. Chik Ditiro Sigli merupakan salah satu dari beberapa rumah sakit di provinsi aceh yang menyediakan pelayanan hemodialisa dan sampai februari 2016 jumlah pasien yang menjalani terapi hemodialisa 115 pasien. Dalam sehari jumlah pasien hemodialisa sebanyak 40 pasien. Dari 10 pasien yang di wawancarai 8 pasien mengatakan mengalami keterbatasan aktivitas, kelemahan, gelisah, susah tidur dan dan ketergantungan hidup terhadap mesin hemodialisa. Dari hasil observasi awal dan wawancara singkat tersebut.

Berdasarkan fenomena-fenomena di atas, maka penulis ingin mengetahui gambaran mekanisme koping pada pasien hemodialisa di ruang hemodialisa RSU Tgk. Chik Ditiro Sigli

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana “Gambaran Mekanisme Koping Pada Pasien Therapi Hemodialisa Di Ruang Hemodialisa RSU Tgk Chik Ditiro Sigli 2016.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran mekanisme koping pada pasien therapy hemodialisa di ruang Hemodialisa RSU Tgk. Chik Ditiro Sigli 2016.

Tujuan Khusus

a.       Untuk mengetahui mekanisme koping denial pada pasien therapy hemodialisa di ruang hemodialisa RSU Tgk. Chik Ditiro Sigli 2016.

b.       Untuk mengetahui mekanisme koping kompensasi pada pasien therapy hemodialisa di ruang hemodialisa RSU Tgk. Chik Ditiro Sigli 2016.

c.        Untuk mengetahui mekanisme koping displacement pada pasien therapy hemodialisa di ruang hemodialisa RSU Tgk. Chik Ditiro Sigli 2016.

d.       Untuk mengetahui mekanisme koping reaction formation pada pasien therapy hemodialisa  di ruang hemodialisa RSU Tgk. Chik Ditiro Sigli 2016.

e.       Untuk mengetahui mekanisme koping introyeksi pada pasien therapy hemodialisa di ruang hemodialisa RSU Tgk. Chik Ditiro Sigli 2016.

f.         Untuk mengetahui mekanisme koping rasionalisasi pada pasien therapy hemodialisa di ruang hemodialisa RSU Tgk. Chik Ditiro Sigli 2016.

Manfaat Penelitian

Bagi Peneliti

Dapat mengaplikasikan semua ilmu yang telah peneliti dapat selama ini khususnya ilmu tentang riset penelitian yang menyangkut dan mengkaji tentang penelitian ini.

Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya dan sebagai bahan informasi bagi pengembangan ilmu penelitian lebih lanjut terutama yang berkaitan dengan mekanisme koping pada pasien therapi hemodialisa.

Bagi Masyarakat

Meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat yang memiliki keluarga therapi hemodilaisa agar dapat mengetahui mekanisme koping tersebut.

Bagi Mahasiswa

Supaya dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang mekanisme koping yang baik terutama pada pasien terapi hemodialisa.

Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu melihat suatu keadaan atau fenomena  untuk mengetahui gambaran mekanisme koping pada pasien therapy hemodialisa  di ruang hemodialisa RSU Tgk Chik Ditiro Sigli.

Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat PenelitianPenelitian ini telah dilakukan di ruang hemodialisa RSU Tgk Chik Ditiro Sigli

Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan pada tanggal 30 Agustus s/d 05 September 2016.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien therapy hemodialisa di ruang hemodialisa RSU Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 yang berjumlah 115 pasien.

Sampel dalam penelitian ini menggunakan acak sistematis (systematis random sampling), yaitu membagi jumlah populasi dengan jumlah sampel yang diinginkan hasilnya adalah kelipatan interval sampel (Notoatmojo, 2003). Sebanyak 53 pasien therapy hemodialisa di ruang hemodialisa RSU Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016.

HASIL PENELITIAN

Penelitian telah dilaksanakan dari tanggal 30 Agustus sampai 05 September, jumlah responden 53 pasien therapy hemodialisa dengan cara menyebarkan kuesioner tentang Gambaran Mekanise Koping Pada Pasien Therapy Hemodialisa Di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli 2016. Maka penyajian data hasil penelitian sebagai berikut.

Analisa Univariat

Analisa univariat dengan menggunakan statistik deskriptif untuk menentukan mekanisme koping pasien hemodialisa adalah sebagai berikut.

a.     Mekanisme koping denial

Tabel 5.1

Distribusi Frekuensi Gambaran Mekanisme Koping Denial pada Pasien Therapy HemodialisaRumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli

 

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase

1

2

Adaptif

Maladaptif

42

11

79

21

 

Jumlah

53

100

Sumber: Data primer diolah, 2016

Dari Tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 42 responden (79%).

b.     Mekanisme koping kompensasi

Tabel 5.2

Distribusi Frekuensi Gambaran Mekanisme Koping Kompensasi pada Pasien Therapy Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli

 

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase

1

2

Adaptif

Maladaptif

38

15

72

28

 

Jumlah

53

100

Sumber: Data primer diolah, 2016

Dari Tabel 5.2 menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 38 responden (72%).

c.     Mekanisme koping displacement

Tabel 5.3

Distribusi Frekuensi Gambaran Mekanisme KopingDisplacement pada Pasien Therapy Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli

 

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase

1

2

Adaptif

Maladaptif

30

23

57

43

 

Jumlah

53

100

Sumber: Data primer diolah, 2016

Dari Tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 30 responden (57%).

d.       Mekanisme koping reaksion formasion

Tabel 5.5

Distribusi Frekuensi Gambaran Mekanisme Koping Introyeksi pada Pasien Therapy Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase

1

2

Adaptif

Maladaptif

26

27

49

51

 

Jumlah

53

100

Sumber: Data primer diolah, 2016

Dari Tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 26 responden (49%).

e.     Mekanisme koping rasionalisasi

Tabel 5.6

Distribusi Frekuensi Gambaran Mekanisme Koping Rasionalisasi pada Pasien Therapy Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli

 

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase

1

2

Adaptif

Maladaptif

21

32

40

60

 

Jumlah

53

100

Sumber: Data primer diolah, 2016

Dari Tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 32 responden (60%).

f.       Mekanisme koping secara keseluruhan pasien therapy hemodialisa

Tabel 5.6

Distribusi Frekuensi Secara Keseluruhan Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli

 

No.

Kategori

Frekuensi

Persentase

1

2

Adaptif

Maladaptif

39

14

74

26

 

Jumlah

53

100

Sumber: Data primer diolah, 2016

Dari Tabel 5.7 menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 39 responden (74%).

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian Table 5.1 Menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 42 responden (79%). Mekanisme koping denial. Table 5.2 Menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 38 responden (72%).

Mekanisme koping kompensasi. Table 5.3 Menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 30 responden (57%). Mekanisme koping displacement. Table 5.4 Menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 36 responden (68%).

Mekanisme koping reaksion formasi. Table 5.5 Menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 26 responden (49%). Mekanisme koping introyeksi. Table 5.6 Menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Maladaptif yaitu sebanyak 32 responden (60%).

Mekanisme koping rasionalisasi. Dan Gambaran mekanisme koping pasien therapy hemodialisa secara keseluruhan  Table 5.7 Menunjukkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada Adaptif yaitu sebanyak 39 responden (74%). Mekanisme koping secara keseluruhan.

Mekanisme koping merupakan tiap upaya yang di tujukan untuk penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan ego yang di gunakan untuk melindungi diri (Gail. W. Stuart, 2006). Jenis-jenis mekanisme adalah: a. koping Denial: menghindari realita yang tidak menyenangkan dengan mengabaikan atau menolak untuk mengakuinya.b. Kompensasi: proses dimana individu memperbaiki penurunan citra diri berupaya menggantinya dengan menonjolkan kelebihan lain yang dimiliki. c. Displancement: memindahkan emosi atau perasaan kepada seseorang atau objek lain yang lebih netral atau kurang berbahaya. d. Reaction formation: mengembangkan perilaku dan pola sikap tertentu yang disadari, berlawanan dengan perasaan dan keinginannya. e. Introyeksi: bentuk identifikasi yang lebih mendalam dimana individu mengambil atau memasukkan nilai dari orang lain yang dicintai atau benci menjadi struktur egonya. f. Rasionalisasi: memberikan alasan atau penjelasan yang masuk akal agar perilaku, pikiran atau perasaan yang tidak dapat diterima atau dibenarkan oleh orang lain. (Sujono riyadi & Teguh purwanto, 2009)

Faktor yang mempengaruhi mekanisme koping yaitu; a. Kesehatan fisik, merupakan hal yang penting karena dalam hal mengatasi stress individu dituntut menggunakan energy yang lebih besar. Dengan fisik yang sehat tubuh mampu menyerap vitamin dengan baik yang di perlukan oleh otak untuk memenuhi nurtisi yang meningkat pada saat stress. b. Keyakinan atau pandangan positif, keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting yang akan mengarahkan individu pada ketidak berdayaan yang akan menurunkan kemampuan strategi koping. c. Keterampilan memecahkan masalah, ketrampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi, menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah, dengan tujuan untuk alternative tindakan.

d.Keterampilan sosial keterampilan ini meliputi kemampuan berkomunikasi dan bertingkah laku sesuai norma sosial di masyarakat. e. Dukungan sosial ini meliputi pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional serta pengaruh dari orang lain( teman, keluarga, guru, petugas kesehatan, dll). f.Materi atau Pekerjaan , Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan sesorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung. g.Umur mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah umur akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin membaik. h. Jenis kelamin adalah faktor penting dalam perkembangan koping seseorang. i. Pendidikan, bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. (Ahyarwahyudi, 2010)

Penelitian yang terkait dengan koping pada pasien yang menjalani hemodialisa dilakukan oleh Novalia (2010), tentang koping pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan didapatkan 26 atau 63,42% responden melakukan respon adaptif dan 15atau 36,58% responden melakukan koping yang maladaptif. Maka dapat disimpulkan bahwa pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa lebih banyak menggunakan mekanisme koping adaptif.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Septyan Arinta (2011) tentang gambaran dukungan keluarga pada pasien gagal ginjal dalam menjalani hemodialisa di RSUD Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan informasi pasien gagal ginjal sebagian besar baik yakni sebanyak 48 orang (76,2%), cukup sebanyak 11 orang (17,5%) dan kurang sebanyak 4 orang (63%). Dukungan penelitian pada pasien gagal ginjal sebagian besar baik yakni sebanyak 45 orang (71,5%). Cukup sebanyak 12 orang (19,0%) dan kurang sebanyak 6 orang (9,5%). Dukungan instrumental pasien gagal ginjal sebagian besar baik yakni sebanyak 42 orang (66,7%), cukup sebanyak 13 orang (20,6%) dan kurang sebanyak 8 orang (12,7%). Dukungan emosional pasien gagal ginjal sebagian besar baik yakni sebanyak 46 orang (73,0%), cukup sebanyak 6 orang (9,55%) dan kurang sebanyak 11 orang (17,5%).

Dari 10 pasien yang di wawancarai 8 pasien mengatakan mengalami keterbatasan aktivitas, kelemahan gelisah susah tidur dan ketergantungan terhadap mesin hemodialisa. Dari hasil observasi awal dan wawancara singkat tersebut.   Hasil penelitian ini dapat di simpulkan bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada kategori Adaptif yaitu sebanyak 39 responden (74%). Diharapkan kepada pasien therapy hemodialisa agar dapat mempertahnkan mekanisme koping adaptif tersebut.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa bahwa dari 53 responden, mayoritas Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Therapy Hemodialisa di Ruang Hemodialisa Rumah Sakit Tgk Chik Ditiro Sigli Tahun 2016 berada pada kategori Adaptif yaitu sebanyak 39 responden (74%).

Saran-saran

6.2.1.Bagi Peneliti 

Dapat mengaplikasikan semua ilmu yang telah peneliti dapat selama ini khususnya ilmu tentang riset penelitian yang menyangkut dan mengkaji tentang penelitian ini.

6.2.2.Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya dan sebagai bahan informasi bagi pengembangan ilmu penelitian lebih lanjut terutama yang berkaitan dengan mekanisme koping pada pasien therapi hemodialisa.

6.2.3.Bagi Masyarakat

Meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat yang memiliki keluarga therapi hemodilaisa agar dapat mengetahui mekanisme koping tersebut.

6.2.4.Bagi Mahasiswa

Supaya dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang mekanisme koping yang baik terutama pada pasien terapi hemodialisa.

DAFTAR PUSTAKA

Aru W. Sudoyo. 2009. Ilmu Praktek Penyakit Dalam, Tim Editor; Jakarta.

Ahyarwahyudi. (2010), Konsep Diri dan Mekanisme Koping dalam Proses Keperawatan, http://ahyarwahyudi.wordpress.com/2010/02/11/konsep-diri-dan-mekanisme-koping-dalam-proses-keperawatan/ [Di akses pada tanggal 20 Februari 2016]

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian. Edisi Revisi. IV. Cetakan 3. Jakarta: Rineka Cipta.

Doenges E. Marlyn, 2004, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, EGC, Jakarta.

Dadang Hawari, 2004, Manajemen Stres Cemas dan Depresi, FUKI, Jakarta.

Ernawati & susilawati. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Masalah Psikososial, Agung wijaya; Jakarta

Fransisca, Nursalam, 2009, Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan, Salemba Medica, Jakarta.

Gail W. Stuart, (2006). (Ed. 5.Cet 1). Buku Saku Keperawatan jiwa,  EGC; Jakarta.

Herodessolution, 2010, Konsep Dasar Hemodialisa dari http://www.Herodessution.com  [Di akses pada tanggal 20 Februari 2016]

Keliat, B.A. (2007). Penatalaksanaan stres, Penerbit Buku Kedokteran  EGC; Jakarta .

Moshii, 2013, Makalah Hemodialisa dari http://www.Moshii.com [Di akses pada tanggal 20 Februari 2016]

Price, Sylvia Anderson, 2005, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, EGC, Jakarta.

Rasmun. ( 2004). Stres, Koping dan Adaptasi, Sagung Seto, Jakarta.

Siswanto. (2007).  Kesehatan Mental, konsep, cakupan dan perkembangannya,  Andi Offeset, Yogyakarta.

Sujono riyadi& Teguh purwanto. (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa, Graha Ilmu; yogyakarta.

Serambi Indonesia, 2013, Pasien Gagal Ginjal di Rsu Sigli Meningkat, http://aceh.trimbunnews.com/2013/03/18/pasien-gagl-ginjal-di-rsu-sigli-meningkat. [Di akses pada tanggal 20 Februari 2016]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 



 

 

Comments

Popular Posts