asuhan keperawatan pada pasien asam urat
LAPORAN
PENDAHULUAN
K3S KEPERAWATAN GERONTIK
. Latar Belakang
Di masyarakat kini beredar mitos bahwa ngilu sendi berarti asam urat.
Pengertian ini perlu diluruskan karena tidak semua keluhan dari nyeri sendi
disebabkan oleh asam urat. Pengertian yang salah ini diperparah oleh
iklan jamu/obat tradisional. Penyakit rematik banyak jenisnya. Tidak semua
keluhan nyeri sendi atau sendi yang bengkak itu berarti asam urat. Untuk
memastikannya perlu pemeriksaan laboratorium.
Sebenarnya yang dimaksud dengan asam urat adalah asam yang
berbentuk kristal-kristal yang merupakan hasil akhir dari metabolisme
purin (bentuk turunan nukleoprotein), yaitu salah satu komponen asam nukleat
yang terdapat pada intisel - sel tubuh. Secara alamiah, purin terdapat dalam
tubuh kita dan dijumpai pada semua makanan dari sel hidup, yakni makanan dari
tanaman (sayur, buah, kacang-kacangan) atau pun hewan (daging, jeroan, ikan
sarden).
Jadi asam urat merupakan hasil metabolisme di dalam tubuh, yang kadarnya
tidak boleh berlebih. Setiap orang memiliki asam urat di dalam tubuh, karena
pada setiap metabolisme normal dihasilkan asam urat. Sedangkan pemicunya
adalah makanan dan senyawa lain yang banyak mengandung purin. Sebetulnya, tubuh
menyediakan 85 persen senyawa purin untuk kebutuhan setiap hari. Ini berarti
bahwa kebutuhan purin dari makanan hanya sekitar 15 persen. Sayangnya, fakta ini masih belum
diketahui secara luas oleh masyarakat. Akibatnya banyak orang suka
menyamaratakan semua makanan. Orang menyantap apa saja yang dia inginkan, tanpa
mempertimbangkan kandungan didalamnya sangat tinggi.
Produk makanan mengandung purin tinggi kurang baik bagi orang-orang tertentu,
yang punya bakat mengalami gangguan asam urat. Jika mengonsumsi makanan ini
tanpa perhitungan, jumlah purin dalam tubuhnya dapat melewati ambang
batas normal. Beberapa jenis makanan dan minuman yang diketahui bisa
meningkatkan kadar asam urat adalah alkohol, ikan hearing, telur, dan jeroan.
Ikan hearing atau sejenisnya (sarden), dan jeroan merupakan sumber senyawa
sangat potensial. Yang tergolong jeroan bukan saja usus melainkan semua
bagian lain yang terdapatdalam perut hewan ±seperti hati, jantung,
babat, dan limfa.
Konsumsi jeroan memperberat kerja enzim hipoksantin untuk mengolah
purin. Akibatnya banyak sisa asam urat di dalam darahnya, yang berbentuk
butiran dan mengumpul di sekitar sendi sehingga menimbulkan rasasangat sakit.
Jeroan memang merupakan salah satu hidangan menggiurkan, diantaranya soto
babat, sambal hati, sate jantung, dan kerupuk limfa. Tetapi salahsatu
dampaknya, jika tubuh kelebihan senyawa purin maka si empunya dirimengalami
sakit pada persendian.
B. Rumusan Masalah
1. apakah pengertian dari gout?
2. Bagaimana etiologi dari gout?
3. Apa saja klasifikasi dari gout?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari Gout?
5. Bagaimana patofisiologi dari Gout?
6. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari gout?
7. Bagaimana pemeriksaan fisik dari gout?
8. Bagaimana penatalaksanaan medis dari gout?
9. Bagaimana penatalaksanaan keperawatan dari gout?
10. Bagaimana komplikasi pada gout?
11. Bagimana asuhan keperawatan pada penyakit gout?
B. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui
Pengertian
2. Untuk mengetahui Etiologi
3. Untuk Mengetahui Klasifikasi
4. Untuk mengetahui Manifestasi
Klinis
5. Untuk Mengetahui Patofisiologi
6. Untuk mengetahui Pemeriksaan
Penunjang
7. Untuk mengetahui Pemeriksaan
Fisik
8. Untuk mengetahui
Penatalaksanaan Medis
9. Untuk mengetahui
Penatalaksanaan keperawatan
10. Untuk mengetahui Komplikasi
11. Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan
C. Manfaat penulisan
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab serta upaya pencegahan penyakit Gout agar terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik. Bagi pembaca diharapkan agar pembaca dapat mengetahui tentang Gout lebih dalam sehingga dapat mencegah serta mengantisipasi diri dari penyakit Gout. Bagi petugas kesehatan diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan Gout sehingga dapat meningkatkan pelayanan keperawatan yang baik. Bagi institusi kesehatan dapat menambah informasi tentang Gout sehingga tercipta proses belajar mengajar yang efektif
D. Gout
1. Definisi
Gout Artritis adalah sekelompok penyakit yang terjadi akibat deposit kristal monosodium
urat di jaringan. Deposit ini berasal dari cairan ekstra seluler yang sudah
mengalami supersarurasi dari hasil akhir metabolisme purin yaitu asam urat(Aru W.Sudoyo.
2009).
Gout Atritis adalah metabolisme asam urat yang ditandai denganhiperurisemia dan deposit kristal urat dalam jaringan sendi, menyebabkan
serangan akut (Hendarto Natadidjaja.1999).
Penyakit Gout adalah penyakit akibat gangguan metabolisme purin yang
ditandai dengan hiperurisemia dan serangan sinovitis akut berulang-ulang.
Kelainan ini berkaitan dengan penimbunan kristal urat monohidrat monosidium dan
pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi tulang rawan sendi. Insiden
penyakit gout sebesar 1-2%, terutama terjadi pada usia 30-40 tahun dan 20 kali
lebih sering pada pria daripada wanita. Penyakit ini menyerang sendi tangan dan
bagian metatarsofalangeal kaki (Muttaqin, 2008).
Gout adalah penyakit metebolik yang ditandai dengan penumpukan asam urat
yang nyeri pada tulang sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian
atas, pergelangan dan kaki bagian tengah. (Merkie, Carrie. 2005).Gout
merupakan penyakit metabolic yang ditandai oleh penumpukan asam urat yang menyebabkan nyeri pada sendi.
(Moreau, David. 2005;407).
Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungandengan defek
genetic pada metabolism purin atau hiperuricemia. (Brunner &Suddarth. 2001;1810).
Jadi dapat disimpulkan Gout Artritis (asam urat)adalah suatu
penyakit gangguanmetabolik dimana tubuh tidak dapat mengontrol asam urat
sehingga terjadi penumpukan asam urat yang menyebabkan rasa nyeri pada tulang
dan sendi.
2. Etiologi
Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya deposit / penimbunan
kristal asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi pada
penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan kelainan metabolik dalam
pembentukan purin dan ekskresi asam urat yang kurang dari ginjal.Beberapa
factor lain yang mendukung, seperti:
a. Faktor genetik seperti gangguan
metabolisme purin yang menyebabkan asam urat berlebihan (hiperuricemia), retensi
asam urat, atau keduanya.
b. Penyebab sekunder yaitu akibat
obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, gangguan ginjal yang akan menyebabkan
pemecahan asam yang dapat menyebabkan hiperuricemia.
c. Karena penggunaan obat-obatan
yang menurunkan ekskresi asam urat sepertiaspirin, diuretic, levodopa,
diazoksid, asam nikotinat, aseta zolamid dan etambutol.
d. Mengkomsumsi makanan
yang mengandung kadar purin yang tinggi adalah jeroan yang dapat
ditemukan pada hewan misalnya sapi, kambing dan kerbau.
3. Klasifikasi
3 klasifikasi berdasarkan manifestasi klinik:
1. Stadium artritis
gout akut
Pada tahap ini penderita akan mengalami serangan
artritis yang khas dan serangan tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam
waktu 5 – 7 hari. Karena cepat menghilang, maka sering penderita menduga
kakinya keseleo atau kena infeksi sehingga tidak menduga terkena penyakit gout
dan tidak melakukan pemeriksaan lanjutan. Pada serangan akut yang tidak
berat, keluhan-keluhan dapat hilang dalam beberapa jam atau hari. Pada serangan
akut berat dapat sembuh dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.
Faktor pencetus serangan akut antara lain berupa
trauma lokal, diet tinggi purin, kelelahan fisik, stres, tindakan operasi,
pemakaian obat diuretik atau penurunan dan peningkatan asam urat.
2. Stadium
interkritikal
Pada keadaan ini penderita dalam keadaan sehat
selama jangka waktu tertentu. Jangka waktu antara seseorang dan orang lainnya
berbeda. Ada yang hanya satu tahun, ada pula yang sampai 10 tahun, tetapi
rata-rata berkisar 1 – 2 tahun. Panjangnya jangka waktu tahap ini menyebabkan
seseorang lupa bahwa ia pernah menderita serangan artritis gout atau menyangka
serangan pertama kali dahulu tak ada hubungannya dengan penyakit gout.
Walaupun secara klinik tidak didapatkan tanda-tanda
akut, namun pada aspirasi sendi ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan
bahwa proses peradangan tetap berlanjut, walaupun tanpa keluhan.
Dengan manajemen yang tidak baik , maka keadaan interkritik akan berlajut
menjadi stadium dengan pembentukan tofi.
3. Stadium artritis
gout menahun (kronik)
Tahap ketiga disebut sebagai tahap artritis gout
kronik bertofus. Tahap ini terjadi bila penderita telah menderita sakit selama
10 tahun atau lebih. Pada tahap ini akan terjadi benjolan-benjolan di sekitar
sendi yang sering meradang yang disebut sebagai tofus. Tofus ini berupa
benjolan keras yang berisi serbuk seperti kapur yang merupakan deposit dari
kristal monosodium urat. Tofus ini akan mengakibatkan kerusakan pada sendi dan
tulang di sekitarnya. Pada stadium ini kadang-kadang disertai batu saluran
kemih. pirai menahun dan berat,
yang menyebabkan terjadinya kelainan bentuk sendi.
Pengendapan kristal urat di dalam sendi dan tendon terus berlanjut dan
menyebabkan kerusakan yang akan membatasi pergerakan sendi. Benjolan keras dari
kristal urat (tofi) diendapkan di bawah kulit di sekitar sendi. Tofi
juga bisa terbentuk di dalam ginjal dan organ lainnya, dibawah kulit telinga
atau di sekitar sikut. Jika tidak diobati, tofi pada tangan dan kaki bisa pecah
dan mengeluarkan massa kristal yang menyerupai kapur.
Klasifikasi berdasarkan penyebabnya:
1. Gout primer
Gout primer merupakan akibat langsung pembentukan asam urat berlebihan,
penurunan ekskresi asam urat melalui ginjal.
2. Gout sekunder
Gout sekunder disebabkan oleh penyakit maupun obat-obatan.
a. Obat-obatan
Salisilat dosis rendah, diuretik, pyrazinamide(obat TBC), levodopa (obat
parkinson), asam nikotinat,ethambutol.
b. Penyakit lain
Insufisiensi ginjal: gagal ginjal adalah salah satu penyebab yang lebih
lazim hiperusemia. Pada gagal ginjal kronikkdar asam urat pada umumnya tidak
akan meningkat sampai kretinie clearance kurang dari 20 mL/menit, kecuali bila
ada faktor-faktor lain yang berperan. Pada kelainan ginjal tertentu, seperti
nefpropati karena keracunan timbal menahun, hiperusemia umumnya telah dapat
diamati bahkan dengan insufisiensi ginjal yang minimal.
5. Patofisiologi
Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukan
berlebihan atau penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat adalah
produk akhir metabolisme purin. Secara normal, metabolisme purin menjadi asam
urat dapat diterangkan sebagai berikut:
Sintesis purin melibatkan dua jalur, yaitu jalur de novo dan
jalur penghematan (salvage pathway).
1. Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam
urat melalui prekursor nonpurin. Substrat awalnya adalah ribosa-5-fosfat, yang
diubah melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida purin (asam inosinat,
asam guanilat, asam adenilat). Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian
mekanisme yang kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat reaksi
yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan
amidofosforibosiltransferase (amido-PRT). Terdapat suatu mekanisme inhibisi
umpan balik oleh nukleotida purin yang terbentuk, yang fungsinya untuk mencegah
pembentukan yang berlebihan.
2. Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin
melalui basa purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jalur
ini tidak melalui zat-zat perantara seperti pada jalur de novo. Basa purin
bebas (adenin, guanin, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk membentuk
prekursor nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua enzim:
hipoxantin guanin fosforibosiltransferase (HGPRT) dan adenin
fosforibosiltransferase (APRT).
Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan difiltrasi
secara bebas oleh glomerulus dan diresorpsi di tubulus proksimal ginjal.
Sebagian kecil asam urat yang diresorpsi kemudian diekskresikan di nefron distal
dan dikeluarkan melalui urin.
E.
Rencana Keperawatan
1.
Diagnosa
keperawatan
Belum dapat
ditetapkan karena pengkajian belum dilakukan.
2.
Tujuan umum
Untuk
mendapatkan data umum dan informasi
mengenai kondisi klien.
3.
Tujuan
khusus
Selama 1 x 45 menit kunjungan, perawat dapat mengumpulkan data melalui pengkajian yang meliputi:
a.
Riwayat
klien/ data biografis
b.
Riwayat
keluarga
c.
Riwayat
pekerjaan
d.
Riwayat
lingkungan hidup
e.
Riwayat
rekreasi
f.
Sumber /
sistem pendukung yang digunakan
g.
Status
kesehatan saat ini
h.
Status
kesehatan masa lalu
i.
Riwayat
penggunaan obat – obatan
j.
Riwayat
keluarga dan penyakit keluarga
k.
Pola
kebiasaan sehari – hari
l.
Pengkajian
fisik
m.
Pengkajian
keseimbangan dan pengkajian fungsional klien menggunakan KATZ Indeks/ Barthel Indeks.
n.
Pengkajian
status mental Gerontik.
A. Rencana Kegiatan
- Topik :
Pengkajian tentang data umum dan status kesehatan klien
- Metode :
Wawancara dan diskusi
- Media :
Format pengkajian
- Waktu : 45 menit
B.
Strategi
Pelaksanaan
|
No. |
Alokasi Waktu |
Kegiatan |
|
1. |
10.00 – 10.05 |
Fase orientasi ·
Mengucapkan salam ·
Membuat kontrak waktu ·
Menjelaskan maksud dan bagian interaksi |
|
2. |
10.05 – 10.30 |
Fase kerja ·
Melakukan pengkajian tentang data umum ·
Status kesehatan ·
Tinjauan sistem |
|
3. |
10.30 – 10.45 |
Fase terminasi ·
Membuat kesimpulan hasil pertemuan ·
Membuat kontrak waktu pertemuan selanjutnya ·
Mengucapkan salam |
C.
Kriteria Hasil
- Evaluasi Struktur
a. Telah
membuat kontrak sebelumnya
b. Tersedianya
format pengkajian
c. Tempat
interaksi sesuai dengan yg disepakati.
- Evaluasi Proses
a.
Klien
dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
b.
Klien
dapat mengikuti dari awal sampai akhir kegiatan
c.
Klien
aktif memberikan tanggapan/jawaban selama interaksi
d.
Tidak
ada gangguan selama proses interaksi.
- Evaluasi Hasil
a.
Terbina
hubungan saling percaya antara perawat dan klien
b.
Didapatkan
data pengkajian tentang data umum dan status kesehatan sesuai dengan format
pengkajian.
DAFTAR PUSTAKA
Lukman, Ningsih, Nurna. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Aajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan
Muskuloskeletal. Jakarta : EGC.
Puspitasari, Ika.2010. Jadi Dokter Untuk Diri Sendiri.
Bandung:Miazan Utama
Price, Sylvia.A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit. Ed.6 .Jakarta : EGC.
Suratun. 2008. Asuhan Keperawatan Klein Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta : EGC.
M. Wilkinson, Judith. Buku Saku DIAGNOSIS KEPERAWATAN. Jakarta
: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2006
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN GERONTIK
Hari/Tanggal pengkajian :
Desa/Dusun :
1. Data Biografis
Nama/Umur : Nenek R /70 tahun
Tempat/Tanggal Lahir :
Jenis
Kelamin : Perempuan
Suku :
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Status Perkawinan :
Alamat/No.HP/Telepon :
2. Riwayat Keluarga
Pasangan
|
Hidup |
Meninggal |
|
Nama : Umur :
- Pekerjaan :
- Status Kesehatan : - |
Tahun Meninggal : 1972 Penyebab Meninggal : Sakit |
Anak
|
Hidup |
Meninggal |
|
Laki-laki :
3 orang Perempuan :
2 orang |
Laki-laki :
- Penyebab Meninggal : - Perempuan :
- Penyebab Meninggal : - |
3. Riwayat Pekerjaan
Pekerjaan
saat ini : Berkebun
Pekerjaan
sebelumnya : Petani
Sumber
pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan :
-
Klien dapat memenuhi kebutuhannya sendiri
-
Kebutuhan klien juga dipenuhi
oleh anak-anaknya.
-
Sumber pendapatan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup klien.
4. Lingkungan Hidup
Klien
tinggal di rumah milik sendiri bersama anaknya. Rumah dengan tipe permanen. Terdapat saluran pembuangan yang memadai.
Ventilasi rumah cukup, pencahayaan kamar klien dan ruang tengah memadai. Tampak lingkungan rumah bersih.
5. Rekreasi dan Hiburan
Hobi/Minat : Mengaji, berkunjung ke rumah tetangga untuk menghilagkan jenuh di rumah.
Liburan/Perjalanan : Klien lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, klien sering
mengeluh pusing bila berjalan jauh dan mudah cepat lelah
Hiburan : Hiburan bagi klien adalah berkumpul dengan
keluarga dan bermain dengan cucu-cucunya.
6. Sumber/Sistem Pendukung yang digunakan
Sistem
pendukung bagi klien yaitu anak, menantu dan cucu-cucunya.
7. Status Kesehatan Saat Ini
Keluhan
utama :
Klien
mengeluh merasakan linu dan kesemutan saat melakukan aktifitas, kadang sendi kaki
juga sakit, Sering merasakan nyeri lambung.
8. Status Kesehatan Masa Lalu
Status
kesehatan selama setahun yang lalu :
Klien
mengatakan bahwa dirinya belum lama menderita nyeri lutut, susah jalan, disertai nyeri lambung. Keluhan dirasakan ± 2 tahun yang lalu.
Status
kesehatan selama 5 tahun yang lalu :
Klien
mengatakan tidak pernah menderita penyakit menahun lain nya dan klien tidak pernah dirawat di rumah sakit.
9. Riwayat Penggunaan Obat-Obatan
Obat-obatan
Nama
: Allopurinol, Meloxicam, Neurodex, Mecobalamin
Dosis :
Bagaimana/kapan menggunakan : -
Alergi
Obat-obatan : Tidak
ada
Makanan : Tidak
ada
Kontak substansi : Tidak
ada
Faktor lingkungan : Tidak ada
10. Riwayat Keluarga
Riwayat
penyakit keluarga
Klien
mengatakan tidak ada anggota
keluarganya yang menderita penyakit gout akut.
|
|
|
|
11. Pola Kebiasaan
Pola
Nutrisi
Diet
khusus, pembatasan makanan atau pilihan
Klien mengatakan tidak ada diet khusus,
Riwayat
peningkatan/penurunan berat badan
Tidak diketahui
Pola
konsumsi makanan (frekuensi)
Klien makan 3 kali dalam sehari.
Pola
istirahat/tidur
Kebiasaan
tidur : Klien tidur pukul 22.00
– 04.00 WIB
Lama
tidur : ± 7 jam
Insomnia :
-
Personal
Hygiene/perawatan diri
Mandi
Frekuensi : 2 kali sehari
Menyikat
gigi : 1 kali sehari
Mencuci
rambut : 1 kali dalam seminggu
Berpakaian/Berhias
Menyisir
rambut : Setiap hari
Kebersihan
rambut : Rambut bersih
Menggunakan
bedak : -
12. Pengkajian Fisik
a.
Keadaan Umum : Baik
b.
Tanda-Tanda Vital
|
1. |
Tekanan Darah : |
110 / 80 mmHg |
|
2. |
Nadi : |
88 x/mnt |
|
3. |
Respirasi : |
20 x/mnt |
|
4. |
Temperature : |
36,5 0C |
c.
Umum : Ya Tidak
|
1. |
Kelelahan |
√ |
|
|
2. |
Demam |
|
√ |
|
3. |
Keringat malam |
|
√ |
|
4. |
Kesulitan makan |
|
√ |
|
5. |
Sering pilek, infeksi |
|
√ |
|
6. |
Kemampuan untuk melakukan ADL |
√ |
|
d.
Sistem Persarafan : Ya Tidak
|
1. |
Sakit kepala |
√ |
|
|
2. |
Kejang |
|
√ |
|
3. |
Sinkope/serangan jantung |
|
√ |
|
4. |
Paralisis |
|
√ |
|
5. |
Masalah koordinasi |
|
√ |
|
6. |
Tremor |
|
√ |
|
7. |
Cedera kepala |
|
√ |
|
8. |
Masalah memori |
|
√ |
e.
Sistem Kardiovaskuler : Ya Tidak
|
1. |
Nyeri/ketidaknyaman |
√ |
|
|
2. |
Palpitasi |
|
√ |
|
3. |
Sesak napas |
|
√ |
|
4. |
Dispnea pada aktivitas |
|
√ |
|
5. |
Murmur |
|
√ |
|
6. |
Edema |
|
√ |
|
7. |
Varises |
|
√ |
|
8. |
Perubahan warna kaki |
|
√ |
f.
Sistem Gastrointestinal : Ya Tidak
|
1. |
Disfagia |
|
√ |
|
2. |
Nyeri ulu hati |
√ |
|
|
3. |
Mual/muntah |
|
√ |
|
4. |
Hematemesis |
|
√ |
|
5. |
Perubahan nafsu makan |
|
√ |
|
6. |
Diare |
|
√ |
|
7. |
Konstipasi |
|
√ |
|
8. |
Melena |
|
√ |
g.
Sistem Genitourinaria : Ya Tidak
|
1. |
Distensi kandung kemih |
|
√ |
|
2. |
Disuria |
|
√ |
|
3. |
Hematuria |
|
√ |
|
4. |
Poliuria |
|
√ |
|
5. |
Nokturia |
|
√ |
|
6. |
Infeksi |
|
√ |
|
7. |
Inkontinensia |
|
√ |
|
8. |
Frekuensi |
5 – 6 kali/ hari |
|
|
9. |
Warna |
Khas (kuning muda) |
|
|
10. |
Bau |
Khas |
|
h.
Sistem Integumen : Ya Tidak
|
1. |
Turgor |
Sedang |
|
|
2. |
Perubahan pigmen |
|
√ |
|
3. |
Jaringan parut |
|
√ |
|
4. |
Keadaan kuku |
Baik |
|
|
5. |
Keadaan rambut |
Baik |
|
|
6. |
Luka |
|
√ |
|
7. |
Diaforesis |
|
√ |
i.
Sistem Muskuloskeletal : Ya Tidak
|
1. |
Nyeri persendian |
√ |
|
|
2. |
Kekakuan |
|
√ |
|
3. |
Pembengkakan sendi |
|
√ |
|
4. |
Deformitas |
|
√ |
|
5. |
Kram |
√ |
|
|
6. |
Kelemahan otot |
√ |
|
|
7. |
Masalah cara berjalan |
|
√ |
|
8. |
Nyeri punggung |
|
√ |
|
9. |
Kekakuan otot |
|
√ |
|
10. |
Kifosis |
|
√ |
j.
Sistem Penginderaan
Penglihatan :
Klien mengatakan penglihatannya masih bagus dan tidak
ada masalah yang
berarti hanya saja klien harus
membaca ditempat yang terang ( ada cahaya).
Pendengaran :
Klien mengatakan tidak mengalami masalah
pendengaran
13. Faktor Resiko Jatuh
§
Kondisi : Ya Tidak
|
1. |
Riwayat fraktur tulang |
|
√ |
|
(± 1 2. |
Penggunaan alkohol dan sedatif, pengobatan
psikoaktif |
|
√ |
|
3. |
Riwayat jatuh sebelumnya, gangguan
keseimbangan dan pusing |
|
√ |
|
4. |
Penyakit akut |
|
√ |
|
5. |
Kondisi patologi, serangan jatuh |
|
√ |
|
6. |
Gangguan kognitif, disorientasi |
|
√ |
|
7. |
Kelemahan anggota gerak bawah |
|
√ |
|
8. |
Abnormalitas dari keseimbangan dan cara
berjalan |
|
√ |
|
9. |
Masalah pada kaki |
√ |
|
|
10. |
Hipotensi postural |
|
√ |
|
11. |
Perubahan skeletal dan neuromuscular |
|
√ |
|
12. |
Penyakit akut dan kronik berat |
|
√ |
|
13. |
Defisit sensori |
|
√ |
|
14. |
Kecemasan berhubungan dengan jatuh
sebelumnya |
|
√ |
§
Situasi : Ya Tidak
|
1. |
Lingkungan yang berbahaya |
|
√ |
|
2. |
Permukaan lantai yang licin, basah |
|
√ |
|
3. |
Tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi |
|
√ |
|
4. |
Pencahayaan yang tidak adekuat |
|
√ |
14. Spiritual
Kegiatan
keagamaan :
Pasien
melakukan shalat 5 waktu dan mengaji serta berzikir sehabis shalat
Konsep
keyakinan klien tentang kematian :
Klien
meyakini setiap yang hidup pasti akan mati & kematian tidak hanya
disebabkan oleh penyakit, namun jika sakit kita perlu berikhtiar / berusaha
untuk mencari penyembuhan.
Harapan-harapan
klien :
Pasien
ingin sembuh agar bisa beribadah , bisa
melakukan pekerjaan rumah dan tidak ingin menyusahkan anak-anaknya.
15. Psikososial
Kemampuan sosialisasi klien pada saat ini cukup baik. Klien
termasuk orang yang banyak bergaul kepada semua orang dan ramah. Klien juga
merasa tidak pernah membeda-bedakan dalam pertemanan.
Identifikasi
masalah emosional
Pertanyaan Tahap 1 : Ya Tidak
|
1. |
Apakah klien mengalami sukar tidur? |
|
√ |
|
2. |
Apakah klien sering merasa gelisah? |
√ |
|
|
3. |
Apakah klien sering murung dan menangis sendiri? |
|
√ |
|
4. |
Apakah klien sering was-was dan khawatir? |
|
√ |
Bila
> 1 jawaban “Ya” berarti masalah emosional (+
PENGKAJIAN
KESEIMBANGAN UNTUK KLIEN LANSIA
A.
Perubahan posisi atau gerakan keseimbangan
Beri nilai 0 jika
tidak menunjukkan kondisi dibawah ini
Beri nilai 1 jika
klien menunjukkan salah satu kondisi dibawah ini
|
NO |
TES UJI
KESEIMBANGAN |
SKOR |
|
|
0 |
1 |
||
|
1. |
Bangun Tidak bangun dari duduk dengan satu kali gerakan,
tetapi mendorong tubuhnya ke atas dengan tangan atau bergerak ke bagian depan
kursi dahulu, tidak stabil pada saat berdiri pertama kali |
0 |
|
|
2. |
Duduk ke kursi Menjatuhkan diri ke kursi, tidak duduk ditengah kursi |
0 |
|
|
3. |
Menahan dorongan pada sternum (pemeriksa mendorong
sternum perlahan-lahan sebanyak 3 kali) Klien menggerakkan kaki ke atas, memegang objek untuk
dukungan, kaki tidak menyentuh sisi-sisinya |
0 |
|
|
4. |
Mata tertutup Sama seperti diatas (periksa kepercayaan klien tentang
input penglihatan untuk keseimbangan) |
0 |
|
|
5. |
Perputaran leher Menggerakkan kaki, menggenggam objek untuk dukungan,
kaki tidak menyentuh sisi-sisinya, keluhan vertigo, pusing atau keadaan tidak
stabil |
0 |
|
|
6. |
Gerakan menggapai sesuatu Tidak mampu untuk menggapai sesuatu dengan bahu fleksi
sepenuhnya sementara berdiri pada ujung jari kaki, tidak stabil, memegang
sesuatu untuk dukungan |
0 |
|
|
7. |
Membungkuk Tidak mampu membungkuk untuk mengambil objek-objek
kecil (mis. Pulpen) dari lantai, memegang objek untuk bisa berdiri lagi,
memerlukan usaha-usaha multipel untuk bangun |
0 |
|
B.
Komponen gaya berjalan atau gerakan satu kondisi dibawah ini
Beri nilai 0 jika
tidak menunjukkan kondisi dibawah ini
Beri nilai 1 jika
klien menunjukkan salah satu kondisi dibawah ini
|
NO |
TES UJI
KESEIMBANGAN |
SKOR |
|
|
0 |
1 |
||
|
1. |
Minta klien untuk berjalan ke tempat yang ditentukan Ragu-ragu, tersandung, memegang objek untuk dukungan |
0 |
|
|
2. |
Ketinggian langkah kaki (memegang kaki saat melangkah) Kaki tidak naik dari lantai secara konsisten (menggeser
atau menyeret kaki), mengangkat kaki terlalu tinggi (> 5 cm) |
|
1 |
|
3. |
Kontinuitas langkah kaki (lebih baik diobservasi dari
samping klien Setelah langkah-langkah awal, langkah menjadi tidak
konsisten, memulai mengangkat satu kaki sementara kaki yang lain menyentuh
lantai |
|
1 |
|
4. |
Ketidaksimetrisan langkah (lebih baik diobservasi dari
belakang klien) Tidak berjalan dalam garis, bergelombang dari sisi ke
sisi |
0 |
|
|
5. |
Penyimpangan jalur pada saat berjalan (lebih baik
diobservasi dari belakang klien) |
0 |
|
|
6. |
Berhenti sebelum mulai berbalik, jalan sempoyongan,
bergoyang, memegang objek untuk dukungan |
|
1 |
Kesimpulan : Terdapat masalah dalam keseimbangan nenek
K
1. Pengkajian fungsional klien
7.1 KATZ Index of Indepedence
in Activities of Daily Living
|
Aktivitas |
Independen (1 Poin) Tanpa
supervisi, arahan atau bantuan |
Dependen (0 Poin) Dengan
supervisi, arahan dan bantuan atau
total care |
|
Mandi Poin: 1 |
(1 Poin) Mampu mandi sendiri atau butuh bantuan hanya satu
bagian tubuh seperti punggung, area genital atau ekstremitas yang
cacat/lumpuh |
(0 Poin) Butuh bantuan untuk mandi lebih dari satu anggota
tubuh. |
|
Berpakaian Poin: 1 |
(1 Poin) Mampu mengambil pakaian dari
lemari pakaian dan mengenakannya. Mungkin perlu bantuan untuk ikat sepatu. |
(0 Poin) Butuh bantuan untuk berpakaian |
|
Toileting Poin: 1 |
(1 Poin) Mampu ke toilet, bangun dan duduk, membersihkan area
genital tanpa bantuan. |
(0 Poin) Butuh bantuan untuk ke toilet, membersihkan diri atau
menggunakan bedpan |
|
Berpindah Poin: 1 |
(1 Poin) Mampu bergerak dari tempat tidur/kursi tanpa bantuan. |
(0 Poin) Butuh bantuan untuk berpindah dari tempat tidur/kursi. |
|
Kontinent Poin:1 |
(1 Poin) Mampu mengontrol miksi dan defekasi |
(0 Poin) Parsial/total continent defekasi/miksi |
|
Makan Poin:1 |
(1 Poin) Mampu mengambil makanan dari piring dan memasukkannya
ke mulut. Persiapan makanan bisa dilakukan oleh orang lain |
(0 Poin) Butuh bantuan untuk makan atau menggunakan parenteral
feeding |
|
TOTAL POIN= 6 (enam) : Tinggi (pasien mandiri) |
Kesimpulan : Klien dapat melakukan ADL secara
mandiri.
7.2 Barthel Indeks
|
No. |
KRITERIA |
DENGAN
BANTUAN |
MANDIRI |
KETERANGAN |
|
1 |
Makan |
5 |
10 |
Frekuensi:
3x sehari Jumlah:7-8
suap Jenis:
Nasi |
|
2 |
Berpindah dari korsi roda ketempat
tidur, sebaliknya |
5-10 |
15 |
Mandiri |
|
3 |
Personal toilet (cuci muka, menyisir rambut, bercukur,
membersihkan gigi) |
0 |
5 |
Frekuensi 2x3/ hari |
|
4 |
Keluar masuk toilet (membuka pakaian, membasuh, menyiram) |
5 |
10 |
Mandiri |
|
5 |
Mandi |
0 |
5 |
Frekuensi 2-3x |
|
6 |
Jalan dipermukaan datar (*beri nilai hanya jika tak mampu berjalan) |
0* |
5 |
Mandiri |
|
7 |
Naik turun tangga |
5 |
10 |
Mandiri |
|
8 |
Berpakaian (termasuk mengikat sepatu dan mengencangkan
ikat pinggang) |
5 |
10 |
Mandiri |
|
9 |
Kontrol Bowel(BAB) |
5 |
10 |
Frekuensi :1-2x Konsistensi :tidak keras |
|
10 |
Kontrol Bladder (BAK) |
5 |
10 |
Frekuensi :5x Warna :
Kuning kecoklatan |
Skoring
Nilai 10 : Mandiri (tidak membutuhan bantuan sama sekali)
Nilai 5 : Butuh sedikit bantuan (bantuan
minimal)
Nilai 0 : Jika tidak memenuhi kriteria
diatas
Kesimpulan : Klien mampu melakukan semua kegiatan
dengan mandiri.
2. Pengkajian
Status Mental Gerontik
8.1.
Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan Short Portable Mental Status Quesioner (SPSMQ)
|
Benar |
Salah |
No. |
Pertanyaan |
|
|
√ |
01 |
Tanggal berapa hari ini |
|
√ |
|
02 |
Hari apa sekarang ini |
|
√ |
|
03 |
Apa nama tempat ini |
|
√ |
|
04 |
Dimana alamat anda |
|
√ |
|
05 |
Berapa umur anda |
|
|
√ |
06 |
Kapan anda lahir ( minimal
tahun lahir ) |
|
|
√ |
07 |
Siapa presiden Indonesia
sekarang |
|
|
√ |
08 |
Siapa presiden Indonesia
sebelumnya |
|
√ |
|
09 |
Siapa nama ibu anda |
|
√ |
|
10 |
Kurangi 3 dari
20 dan tetap pengurangan 3 dari setiap angka baru, semua secara menurun |
|
∑ = 6 |
∑ = 4 |
|
|
|
4 |
Score
total=
Interpretasi hasil
- Salah
0-2 : Fungsi intelektual utuh
- Salah
3-4 : Kerusakan intelektual
yang ringan
- Salah
5-7 : Kerusakan intelektual
yang sedang
Kesimpulan : Klien mengalami kerusakan
intelektual yang ringan.
8.2. Identifikasi Aspek kognitif dari fungsi mental
dengan menggunakan Mini Mental
Status Exam (MMSE)
|
No |
Aspek kognitif |
Nilai maksimal |
Nilai Klien |
Kriteria |
|
1. |
Orientasi |
5 |
2 |
Menyebutkan
dengan benar : · Tahun · Musim · Tanggal · Hari · Bulan |
|
2. |
Orientasi |
5 |
5 |
Dimana
kita sekarang berada : · Negara
Indonesia · Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam · Kota Banda
Aceh · Desa Cot Masam · Dusun Bung Kiwing |
|
3. |
Registrasi |
3 |
3 |
Sebutkan
nama 3 objek (oleh pemeriksa) 1 detik untuk mengatakan masing-masing objek.
Kemudian tanyakan kepada klien ketiga objek tadi (untuk
disebutkan) · Objek (Meja) · Objek (TV) · Objek (Kursi) |
|
4 |
Perhatian dan kalkulasi |
5 |
3 |
Minta
klien untk memulai dari angka 100 kemudian dikurangi 7
sampai 5 kali/tingkat · 93 · 86 · 79 · 72 · 65 |
|
5 |
Mengingat |
3 |
3 |
Minta klien untk mengulangi ketiga objek pada no.2 (
registrasi ) tadi. Bila benar, 1 poin untuk masing-masing objek |
|
6 |
Bahasa |
2 1 3 1 1 1 |
2 1 3 1 1 0 |
Tunjukan
pada klien suatu benda dantanyakan namanya pada klien · (
misal jam tangan) · (misal
pensil) Minta kien untk mengulangi kata berikut ’’jika
tidak, dan, atau tetapi” Minta
klien untuk mengikuti perintah berikut yang terdiri dari 3 langkah ’’ambil kertas ketangan anda, lipat dua dan taruh dilantai’’ Perintahkan
pada klien untuk membaca dan mengikuti kalimat berikut “TUTUP MATA ANDA” Minta klien untuk menulis sebuah kalimat Gambarkan kembali objek berikut |
TOTAL NILAI : 24
Interpretasi :
- >23 : Aspek kognitif dari
fungsi mental baik
- 18 – 22 : Kerusakan aspek
fungsi mental ringan
- < 17 : Terdapat kerusakan aspek
fungsi mental berat
Kesimpulan : Klien memiliki aspek kognitif dari fungsi
mental baik.
ANALISA DATA
|
NO. |
DATA |
ETIOLOGI |
MASALAH |
|
1. |
Data Subjektif : -
Nenek R mengataka merasa linu dan kesemutan terlebih saat
melakukan aktifitas -
Kadang
sendi kaki juga terasa sakit -
Nenek R
mengatakan sering terasa terganggu dengan sakitnya -
Nenek R mengatakan ia sering
mengalami nyeri lambung - Data Objektif : -
Keadaan
umum klien baik -
Raut
muka Nenek R biasa -
TTV:
TD:110/80 mmHg N: 88x/i RR:
20x/i
T : 36,5° C |
Kaku Sendi |
Hambatan mobilisasi fisik |
|
2. |
Data Subjektif : -
Nenek R mengatakan ia tidak tahu berapa tekanan darah
yang normal pada lansia -
Nenek R mengatakan tidak tahu penyebab dirinya
menderita asam urat -
Nenek R mengatakan ingin tahu makan -
dirinya
menderita asam urat -
Nenek R mengatakan ingin tahu makan atau minuman apa saja
yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh penderita asam urat
Data objektif : -
Nenek R banyak bertanya pada perawat -
Nenek R terlihat ingin tahu Nenek R sangat antusias mendengar penjelasan dari perawat |
Kurangnya Informasi |
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan penyakit |
Prioritas Masalah :
1. Hambatan mobilisasi fisik berhubungan dengan kaku
pada persendian
2. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan
pengobatan penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi tentang asam urat.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ASAM URAT
|
No |
Masalah |
Perencanaan |
||
|
Tujuan dan Kriteria hasil |
Intervensi |
Rasional |
||
|
1. |
Hambatan Mobilitas
Fisik berhubungan dengan kaku pada persendian. |
Tujuan : -
Gerakan
sendi kembali membaik - Kriteria hasil : 1. Klien melaporkan gerakan sendi mulai membaik 2. Klien tidak mengeluhkan linu dan kesemutan
|
· Monitor dari tanda inflamasi · Berikan klien latihan ROM · Kontrol asam urat · Motivasi untuk berobat ke Puskesmas · Anjurkan klien mengambil posisi yang · |
· Untuk menentukan intervensi selanjutnya · Untuk melemaskan sendi · Mengetahui kadar asam urat klien · Berkolaborasi untuk pemberian obat klien |
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HIPERTENSI
|
No |
Masalah |
Perencanaan |
||
|
Tujuan dan kriteria hasil |
Intervensi |
Rasional |
||
|
2.
|
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan penyakit
berhubungan dengan kurangnya informasi tentang asam urat
|
Tujuan : Klien paham akan kondisi dan rencana pengobatan
Kriteria Hasil : Klien menyatakan pemahaman tentang
proses penyakit dan rencana pengobatan |
- Berikan pendidikan kesehatan mengenai asam urat
pengertian tanda dan gejala penyebab komplikasi pencegahan - Motivasi klien untuk berobat ke puskesmas |
- Menambah pengetahuan klien tentang asam urat - Berkolaborasi untuk pemberian obat |
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan : Penyuluhan tentang
Asam urat
Hari / Tanggal :
Tempat :
Waktu :
45 menit
A. Tujuan Instruksional
1.
Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan, diharapkan Nenek K mampu mengetahui pengertian Asam Urat
2.
Tujuan Instruksional Khusus
Setelah
mengikuti penyuluhan, diharapkan Nenek K:
a. Mengetahui pengertian Asam urat
b. Mengetahui penyebab asam urat
c. Mengetahui tanda dan gejalanya
B. Topik Bahasan
Penyuluhan
pengertian asam urat
C. Metode Penyuluhan
a.
Ceramah
b.
Tanya
Jawab dan Diskusi
c.
Demonstrasi
D. Media
leaflet
E. Rancangan Kegiatan
|
Tahap |
Kegiatan |
Waktu |
|
Fase Orientasi
|
1.
Mengucapkan salam 2.
Membuat kontrak 3.
Menjelaskan tujuan kegiatan
|
5 menit |
|
Fase Kerja |
1.
Menjelaskan definisi obat tradisional 2.
Menjelaskan manfaat obat
tradisional 3.
Menjelaskan macam-macam obat
tradisional 4.
Mendemonstrasikan pembuatan
obat tradisional
|
30 menit |
|
Fase Terminasi |
1.
Menyimpulkan materi hasil
pertemuan 2.
Membuat kontrak pertemuan
selanjutnya 3.
Mengucapkan salam
|
10 menit |
MATERI PENYULUHAN KESEHATAN
TENTANG
ASAM URAT
A.
Pengertian
Asam urat adalah sisa pencernaan zat
yang berasal dari makanan yang kita konsumsi.
B.
Penyebab penyakit Asam Urat
1.
Faktor
Keturunan
2.
Konsumsi
makanan tinggi purin
3.
Konsumsi
Kafein dan Alkohol
4.
Obesitas /
Kegemukan
5.
Gangguan
pengeluaran asam urat ginjal
6.
Stres dan
Hipertensi
7.
Kelelahan dan
cidera sendi
8.
Resiko tinggi
di atas usia 40 tahun
C.
Tanda dan Gejala Asam Urat
1. Sendi terasa nyeri, terutama pada malam dan pagi
hari
2. Sendi terasa ngilu, bahkan tampak bengkak
3. Nyeri sendi berulang kali
4. Pada kasus yang parah, sendi akan mengalami nyeri
hebat ketika bergerak
Comments
Post a Comment