ASUHAN KEPERAWATAN DISPEPSIA
A. Defenisi
Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri
dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami
kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada
(heartburn) dan regurgitasi asam lambung kini tidak lagi termasuk dispepsia.
Batasan dispepsia terbagi atas dua yaitu:
1.
Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik
sebagai penyebabnya
2. Dispepsia non organik, atau dispepsia fungsional, atau dispepsia
non ulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya. (Mansjoer, 2000)
Dispepsia yang di Indonesia lebih
dikenal dengan sebutan maag adalah perasaan tidak nyaman atau nyeri pada
saluran pencernaan bagian atas (perut, kerongkongan, atau usus dua belas jari).
Maag terdiri dari berbagai gejala termasuk kembung, mual, dan bersendawa, dan
sering merupakan tanda dari masalah yang lebih lanjut. (Lika Aprilia, 2016)
Dispepsia atau indigesti adalah rasa tidak nyaman pada perut
bagian atas atau dada akibat gangguan pada sistem pencernaan. Terdapat dua tipe
dispepsia, yaitu organik dan fungsional. Dispepsia fungsional adalah dispepsia
yang terjadi tanpa adanya kelainan organ lambung, baik dari pemeriksaan klinis,
biokimiawi hingga pemeriksaan penunjang lainnya. Dispepsia organik adalah dispepsia
yang disebabkan kelainan struktur organ percernaan seperti luka di lambung atau
kanker. (Natharina, 2014)
B. Etiologi
1. Perubahan pola makan
2. Pengaruh obat-obatan
yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu yang lama
3. Alkohol dan nikotin
rokok
4. Stres
5. Tumor atau kanker
saluran pencernaan (Mansjoer, 2000)
C. Tanda dan gejala
1.
Nyeri perut (abdominal discomfort)
2.
Rasa perih di ulu hati
3.
Mual, kadang-kadang sampai muntah
4.
Nafsu makan berkurang
5.
Rasa lekas kenyang
6.
Perut kembung
7.
Rasa panas di dada dan perut
8.
Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba)
(Mansjoer, 2000)
D. Patofisiologi



E. Pemeriksaan penunjang
Untuk memastikan penyakitnya, maka perlu dilakukan beberapa
pemeriksaan, selain pengamatan jasmani, juga perlu diperiksa : laboratorium,
radiologis, endoskopi, USG, dan lain-lain.( Iwan, 2008)
F.
Penatalaksanaan
1.
Penatalaksanaan non farmakologis
a)
Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambun
b)
Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang pedas,
obat-obatan yang berlebihan, nikotin rokok, dan stress
c)
Atur pola makan
2.
Penatalaksanaan farmakologis yaitu:
a)
antacid (menetralkan asam lambung) golongan antikolinergik
(menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya
muntah)
G. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri epigastrium
berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.
2. Nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan, anoreksia.
3. Perubahan keseimbangan
cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual, muntah (Inayah, 2004)
DAFTAR
PUSTAKA
Iwan, 2008, http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-klien-dg-dispepsia.html, [Di akses 8 agustus 2016]
Mansjoer, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 53,
Jakarta, Media aevsulapus
Nartharina,
2014, http://www.kerjanya.net/faq/5605-dispepsia.html, [Di akses 8
agustus 2016]
Inayah,
2014, Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Sistem Pencernaan, Edisi 1, Jakarta, Salemba Medika
Lika
Aprilia, 2016, http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-klien-dg-dispepsia.html [Di akses 8 agustus 2016]

Comments
Post a Comment